Jumat, 31 Maret 2017

Balada PJ Mata Kuliah

Posted by Tamy on Maret 31, 2017 with 5 comments

Permisi numpang curhat!
(Sebenernya kan ini blog gue sendiri, ngapain pake izin segala? Anggep aja gue lagi kehabisan kata-kata pembuka).

Jadi gini. Menurut terawangan salah satu temen gue, katanya gue ini termasuk tipe orang yang introvert -dan gue mengamininya.
Tapi gue penasaran, bisa nggak sih personality berubah?

Rasanya dulu -waktu SD atau SMP-, gue tuh kayak masih jadi open-person yang temenan sama siapa aja, mudah bergaul, ngomong di depan siapapun santai, pokoknya semacam orang yang supel gitulah.
(Yaaa namanya juga masih kecil!)

Tapi semenjak SMA dan makin parah ketika kuliah, gue berubah jadi orang yang takut banget berdiri di depan. Takut ngomong di depan orang banyak, level percaya diri turun dengan signifikan, dan maunya duduk di balik layar aja.

Mungkin gara-gara dulu gue masuk ke SMA yang lumayan favorit dan kaget harus bersaing dengan orang-orang pinter + rajin dan langsung ngerasa minder?

Atau ketika gue ngerasain dunia perkuliahan, keadaan gue berbalik 180° dari masa SMA yang bahkan nggak bisa membalik rumus fisika F= m X a jadi m = F/a, kemudian berubah menjadi salah satu mahasiswa so-called-nerd yang tentu saja makin menutup diri.

Atau mungkin memang semakin bertambah usia, semakin malas juga kita untuk beramah tamah dengan orang sekitar?

Atau bisa jadi gara-gara gue terlalu banyak baca novel yang pemeran utama ceweknya terlalu mandiri, nggak peduli sekitar, dan sedikit arogan.

Semua hal itu kayaknya ikut berperan membentuk kepribadian gue hari ini, ya.
Ditambah, inner circle gue juga isinya kebanyakan introvert.
So yeah, you got the point here.

Duh, jadi ngalor ngidul lagi. Tapi biasanya juga gitu kan ya. Tolong dimaklumin aja~

Back in topic, ceritanya kan gue lanjut kuliah lagi nih agar supaya ngedapetin gelar sarjana. Buat yang sedang atau pernah kuliah, pasti udah nggak asing sama PJ alias Penanggung Jawab Mata Kuliah kan ya?

Semester lalu, gue beruntung karena nggak kebagian jadi PJ. Jadi cuma bantu-bantuin dikit aja.
Semester ini, kita bagi tugas lagi nentuin siapa yang jadi Penanggung Jawab Mata Kuliah A, siapa yang Mata Kuliah B, dst.
Karena semester lalu gue udah 'cuci tangan', kali ini gue dengan sadar diri memilih salah satu mata kuliah yang akan gue urusin selama satu semester.

Awalnya biasa aja, ngehubungin dosen, nunggu kepastian masuk atau nggak, ngambil absen, dan hal-hal standar lainnya.
Tapi bedanya, Mata Kuliah ini juga diikuti oleh temen-temen dari peminatan lain.
Have I mention that my class only have 6 students?
Sebenernya ada 29 orang, tapi setelah dibagi sesuai peminatan, kelas kami cuma berisi enam orang. Semuanya cewek, dan nggak pernah ada drama yang gimana banget. We're happy as a team in that class.

Tapi semester ini, kita diberi pilihan buat ikut kuliah di peminatan lain, dan temen-temen dari berbagai peminatan lain memilih buat masuk ke mata kuliah yang kuurusin itu (dengan alasan nilai yang kami peroleh di peminatan ini rata-rata A semester lalu. Geez).

Everything just fine, but some couple weeks ago, I thought I shouldn't volunteer-ing myself as a PJ for this subject.
I prefered to take another subject, -yang meskipun dosennya suka susah dihubungin- tapi cuma berisi 6 mahasiswa daripada harus mengorganisasi kelas yang berisi 23 orang.

Akan lebih mudah ngobrol, ngasih tau, ngebentuk kelompok, -whatever you name it- dengan jumlah orang yang sedikit, apalagi orang yang sudah gue paham karakteristiknya gimana.
Tapi 23 orang? Dengan kemampuan komunikasi minus macem gue ini? It's too much that I'm freaking out so much.
But it was my choice back then.

Banyak ramalan zodiak yang mengatakan kalo orang-orang yang memiliki zodiak seperti gue itu adalah tipe pemimpin. Bleh. Bukan berarti gue percaya ramalan, tapi hampir setiap kali nemuin kalimat itu bergandengan dengan zodiak gue, rasanya kok gue selalu mau muntah.

Okay, gue tau kalo setiap manusia itu pemimpin bagi dirinya sendiri, khalifah di bumi.
Tapi kayaknya, bagi gue, definisi pemimpin itu cukup untuk diri gue sendiri.
Jadi pemimpin buat orang lain itu susah, dude! Seriously.

Apalagi dengan kondisi gue yang nggak jago buat basa-basi ke orang-orang, yang kalo nggak disapa nggak bakalan nyapa (bukan karena sombong, tapi semacam perasaan malu, takut nggak dikenalin/disapa balik, dan banyak What Ifs lain).

Contohnya aja, gue disuruh bikin kelompok di kelas buat ngerjain tugas.
Sementara gue mau mulai ngomong di depan (setelah mengumpulkan sejuta keberanian dari mana-mana), tapi orang-orang pada sibuk sama kegiatannya sendiri dan suara gue tenggelam, gue langsung nyerah dan minta tolong orang lain.

Taruhlah, gue nggak bertanggung jawab. Tapi gue beneran nggak pernah suka jadi pembicara. Gue cuma pinter ngomong kalo lagi curhat, kayak sekarang. Meskipun teknisnya ini gue nulis, tapi yaaa pokoknya gitulah ya.

Gue juga sebel, kenapa gue nggak bisa mengalihkan perhatian mereka buat cuma dengerin gue? Kenapa ketika mereka mulai dengerin, gue speechless dan bingung mau ngomongin apa? Dan, kenapa penjelasan gue kayaknya selalu melintir dan nggak to the point? (Kebiasaan ngeblog ngalor ngidul mungkin salah satu penyebabnya).

Mungkin mereka juga mikir karena gue nggak setegas itu, jadi mereka juga nggak seantusias itu buat ngedengerin gue?
Atau karena gue nobody, yang nggak pernah jawab pertanyaan dosen, yang nggak pernah ngajuin pertanyaan di akhir sesi perkuliahan, yang mungkin cuma diingat karena hapenya bisa dijadiin remote AC?

Oh crap, I'm starting to blame anyone to this.

No, no,
I know there's nothing wrong with them. The one I should blame is actually myself. Why am I being distracted so easily?
Masalah beginian aja dipikirin astaga.

But I need a stress-reliever.
Then I think I'll be better if I write it. And it works, I guess.

Sedih sih, kenapa gue nggak bisa kayak Piper yang punya kemampuan bikin orang dengerin apapun perkataannya. Atau kayak Annabeth yang percaya dirinya bisa bikin dia bertahan hidup.
Why am I bringing that fantasy-character to compare to myself? Because I adore them.
I love seeing people who take theirself as a leader, with that super great confident.

But I don't want to be one.

I want to be myself.

Duduk di balik layar, meminimalisir percakapan dengan orang-orang, tanpa perlu nunjukkin keberadaan gue tapi gue juga ikut partisipasi dalam suatu kegiatan.

Misalnya, ada acara pensi.
Mungkin orang rebutan mau jadi penampil, host, atau ketua panitia, dan jabatan yang membuat dirinya berada di hadapan orang banyak.
Gue mungkin bakal memilih buat jadi orang yang ngetik proposalnya, bikin laporan, atau nyiapin rundown acaranya, apapun asal gue nggak perlu muncul di depan orang banyak.

Dan kayaknya, -mengutip kalimat Leo Valdez- gue lebih seneng berinteraksi sama benda mati (as in Handphone, Laptop, Motor, Mobil), apapun yang nggak bisa jawab pertanyaan gue, tapi bisa gue ngerti dan pahami cara kerjanya.

Mestinya gue kuliah jurusan teknik mesin aja kali ya? Atau kuliah IT biar tiap hari ngadepin komputer & laptop.
Halah. Kayak nilai gue nyampe aja mau masuk jurusan-jurusan begitu. Wkwkwkwk

Btw, kenapa gue begini amat ya? Nanti kalo tahun depan udah wisuda, gue pasti ngakak bacanya wkwk

Blogpost kali ini isinya pemikiran negatif semua nggak sih? Ngeluh ngeluh nggak jelas. Gimana nanti kalo udah kerja? Tekanan bakal lebih berat pasti kan ya hahaha
Sungguh tidak berfaedah sebenernya curhatan gue hahaha.

Sorry for wasting your time and let you read this another nonsense curhat.

See you next post, (in case you're waiting :D)

Tamy♡

Sabtu, 18 Maret 2017

[REVIEW] Percy Jackson's Greek Gods

Posted by Tamy on Maret 18, 2017 with No comments

Judul : Percy Jackson's Greek Gods
Penulis : Rick Riordan
Penerbit : Mizan Group
Penerjemah : Nuraini Masturah
Ilustrasi : John Rocco
ISBN : 9786020989884
Terbit : Juli 2015
Halaman : 401 halaman

Sinopsis :

Siapa yang bisa memberitahu kisah awal mula dewa-dewi Olympus lebih baik dibanding seorang anak demigod di masa kini? Percy Jackson mengungkap pandangan orang dalam SINOPSIS
Siapa yang bisa memberitahu kisah awal mula dewa-dewi Olympus
lebih baik dibanding seorang anak demigod di masa kini?

Percy Jackson mengungkap pandangan orang dalam dengan banyak lagak dalam kumpulan kisah ini.
Saat sebuah penerbit di New York memintaku menuliskan apa yang kuketahui tentang dewa-dewi Yunani, tanggapanku adalah, “Apa kita bisa melakukannya secara anonim? Karena aku tak mau para dewa Olympia marah padaku lagi.” Tapi kalau itu bisa membantumu mengenali dewa-dewi Yunani, dan bertahan hidup dari pertemuan dengan mereka kalau-kalau mereka muncul di hadapanmu, maka kurasa menuliskan semua ini bisa menjadi perbuatan baikku di minggu ini.
Dalam Percy Jakson’s Greek Gods, putra Poseidon menambahkan mantranya sendiri—selain sarkasmenya—kepada kisah klasik ini dan menyuguhkan kepada pembaca pandangan pribadinya pada masing-masing tokoh masa purba, dari Apollo sampai Zeus. Kalau kau menyukai banyak penipuan, pencurian, pengkhianatan, dan kanibalisme, bacalah terus, karena ia jelas merupakan Masa Keemasan bagi semua itu.
Baik kau masih awam dengan mitologi Yunani ataupun sudah sangat paham, buku yang sangat menghibur ini akan membuat kisah-kisah dari masa lampau itu jadi relevan dan sulit dilupakan.
***

Pernah dengar tentang Mitologi Yunani? Tentang Dewa-dewi? Zeus, Poseidon, Hades?
Nah, kali ini kita akan mendengar kisah dua belas Dewa-Dewi dari sosok demigod paling mempesona abad ini, siapa lagi kalau bukan Percy Jackson.

Ada yang sudah mengikuti serialnya? Percy Jackson and The Olympians dan Heroes of Olympus? Bagi yang pernah membacanya, pasti sudah tidak asing dengan sosok Dewa-Dewi dan segala sifat serta sikapnya yang kadang tidak bisa dipahami.
Bagi yang belum membaca, mungkin di buku inilah kalian akan menemukan ketertarikan terhadap mitologi Yunani yang sangat legendaris.

Di sini, Percy akan mengisahkan kembali dengan ciri khas, sarkasme, bahkan komentar-komentar yang sukses membuat pembaca merasa terhibur. Alih-alih membacaa buku sejarah, membaca Percy Jackson's Greek Gods ini terasa seperti membaca novel atau komik karena selain gaya bercerita yang menyenangkan, buku ini juga dilengkapi ilustrasi-ilustrasi karya John Rocco yang tak kalah menarik!

Kau mesti jatuh cinta dengan Aphrodite!
Pada halaman awal, diceritakan proses terjadinya dunia menurut Mitologi Yunani, ada Chaos, yang mewujud menjadi Gaea (Bumi), lalu terciptalah Ouranos (Langit), hingga kemudian terlahirlah Para Titan, Sang Tangan Seratus, dan Para Raksasa, serta Cyclops.

Meskipun terkesan singkat, tapi penggambaran akan masing-masing tokoh yang diangkat di buku ini sangat jelas. Belum lagi ditambah celetukan si pendongeng yang sukses membuat pembaca makin betah melanjutkan halaman demi halaman. Gaya menulis Rick Riordan yang jenaka tak ketinggalan juga terasa di buku ini.

Dari para Titan, muncullah sosok yang sangat terkenal di seri PJO yaitu Kronos yang kemudian menjadi bapak yang sangat jahat (karena dengan sengaja menelan) para Dewa Dewi Olympia.
Satu kalimat yang cukup membuat tergelak di bagian Kronos adalah :
"Selain menjadi Raja Kosmos, Kronos menjadi Titan bagi waktu. Dia tak bisa muncul dalam lintasan waktu seperti Doctor Who atau semacamnya, tapi sesekali dia bisa membuat waktu melambat atau mempercepatnya. setiap kalinya kau menyimak pelajaran sangat membosankan yang rasanya berlangsung tiada akhir, salahkan Kronos. Atau setiap kali kau merasa akhir pekan berlalu terlalu cepat, itu juga salah Kronos." 
Berturut-turut setelah membahas proses terbentuknya dunia dan bermacam-macam Titan dengan segala pangkat dan pekerjaan beserta lokasi tempat tinggalnya, Percy lanjut mengisahkan enam dewa anak Kronos dan Rhea yaitu Dewi Hestia yang sangat cinta damai, Demeter si ibu 2/3 musim, Hera yang merupakan Dewi Pelindung Pernikahan namun sudah ribuan kali dikhianati, Hades si penguasa dunia bawah sekaligus penculik profesional, Poseidon yang bermusuhan dengan Athena, Zeus si playboy kelas kakap yang suka mengayunkan petir. 

Lalu ada Dewa-dewi -mengutip kalimat entah siapa di dalam buku itu- Generasi Kedua, Persephone yang hidupnya berubah gara-gara buah delima, Athena yang mengintimidasi, Aphrodite sang Dewi Cinta dan Kecantikan, Ares yang super sadis, Hephaestus yang menyedihkan namun berbakat, si kembar Apollo dan Artemis yang serupa tapi tak sama, Hermes yang sudah berbakat mencuri sejak bayi, dan Dionysus si Pria Anggur.

Bayi Licik Pencuri Sapi alias Hermes

Karakter yang paling berkesan dari Percy Jackson's Greek Gods versiku ada beberapa. Dan cara Percy bercerita sedikit banyak mempengaruhi pilihanku hahaha. Kisah Athena, Aprodhite, dan Hestia juga menarik minatku. Namun yang paling favorit adalah Dewi Perburuan alias Artemis. Sosok Dewi yang meskipun merupakan Putri Penguasa Langit namun tidak pernah bersikap angkuh. Prinsipnya yang hanya memburu hewan buas dan tetap memelihara lingkungan, itu sangat mengagumkan. Memimpin delapan puluh anggota yang terdiri dari gadis-gadis muda, membantu siapapun yang akan melahirkan ketika dirinya bersikukuh menjadi perawan abadi, dan sederet kemampuan lain yang juga menunjukkan kalau Artemis adalah petarung dan penolong yang baik.
Tipe-tipe cewek strong yang terkesan pendiam namun ketika diusik mampu menunjukkan kekuatannya. She's so adorable!
Artemis, Sang Dewi Pemburu


Oh iya, jangan kira kisah hidup mereka akan berjalan mulus dan tanpa kekacauan, karena kalian salah besar. Seperti peringatan Percy di awal, "Kenakan mantel dan jas hujanmu, akan ada banyak cipratan darah", memang terbukti ketika kita sudah masuk ke dalam ceritanya.
Anak yang ditelan bapaknya, anak yang mencincang bapaknya, semua ada di dalam buku ini.
Belum lagi jika sudah menyangkut kisah cinta dan segala bentuk flirting ala dewa yang nggak banget itu, duh ampun parahnya.

Tapi meskipun akan ada banyak "Iyuwh, Jijik, What the hell, Gila!" dan sederet umpatan lain yang mungkin terlontar ketika membaca kisah mereka, tapi rasa penasaran dan keinginan untuk menyelesaikan hingga halaman terakhir makin menguat. Apalagi ketika banyak diselipkan cerita fiksi, misalnya ada menyinggung Justin Bieber, Mozart, One Direction, hingga mengaitkan fakta-fakta para Dewa dengan kisah di serial Percy Jackson itu sendiri.

Sebagai pembaca yang sudah pernah membaca versi Bahasa Inggris, saya merasa cukup puas dengan hasil terjemahan dari Noura Books dan Mizan Fantasy ini. Banyak yang mengatakan jika suatu buku diterjemahkan maka akan mengurangi kadar humor di dalamnya, namun saya tetap bisa merasakan 'jiwa' dari buku ini dan tetap tertawa di setiap bab-nya.
Apalagi dengan kecanggihan teknologi, sekarang buku ini sudah tersedia di perpustakaan digital iJakarta yang bisa kita akses kapanpun, di manapun, dan oleh siapapun.
Tidak perlu repot membawa buku yang ukurannya cukup besar ini kemana-mana karena kita sudah bisa membacanya melalui aplikasi iJak.
Sudah download?
Jadi, apakah saya menikmati #GreekGodsChallenge bersama @nourabooks dan @iJakarta_id kali ini? Tentu saja jawabannya adalah iya.
Dan saya pasti akan menunggu event-event seperti ini, karena menyenangkan mengetahui banyak orang yang ternyata memiliki interest dan menyukai hal yang sama seperti kita.


Terima kasih sudah membaca. 
Hope you like it!
Peace from Palembang,


Tamy.

Kamis, 23 Februari 2017

Karena Mimpi Bisa Berubah

Posted by Tamy on Februari 23, 2017 with No comments

Nulis postingan ini atas motivasi abis bacain blognya si tde, dan tetiba dia nagih-nagih nyuruh update blog, ngasih ide pula kudu nulis apaan.
Jadi yaudah, mari kita curhat lagi.

Alert: Ini bakal agak panjang dan lumayan bikin muak (kayaknya), karena isinya curhatan doang. If you think it's going to waste your time, just close this window and say bye hahahaha

Once upon a time (halah kayak dongeng), ku pernah terobsesi banget sama Bahasa.
Waktu SD, aku suka pelajaran Bahasa Indonesia. Soalnya di buku cetak banyak kutipan cerita rakyat dan cerpennya.
SMP, seneng pelajaran Bahasa Inggris. Tulisan gurunya cantik banget, sampe usaha buat niru harus bisa nulis serapi itu. Meskipun kalah jauh. Hahaha.
Lanjut di SMA, ada dua Bahasa tambahan yang dipelajari. Bahasa Arab sama Bahasa Jepang.
Bahasa Arab aku pernah belajar dasar-dasarnya pas SD, jadi nggak terlalu kaget dan lumayan nyambung waktu belajar di kelas.
Bahasa Jepang, karena bener-bener baru kenal banget, jadi excited luar biasa dan langsung suka.

Pokoknya, waktu SMA ada satu hari, hari kamis, di mana mata pelajarannya bahasa semua + Penjaskes. Hari paling ku nanti sepanjang minggu. Hari aku nggak perlu mikirin cara ngebolak balik rumus dan ngapalin tabel periodik, ngurusin Logaritma, sin cos tan, sampe nyari tau kenapa kromosom X dan Y itu beda.

Akhirnya, aku mulai memupuk mimpi. Aku pengen bisa banyak bahasa, biar bisa kemana-mana dengan lebih mudah.
Dan ku pikir, ngawalinnya itu dengan cara harus pinter Bahasa Internasional dulu, Bahasa Inggris.

Duh, prolognya panjang banget elaaaahh.
Gapapa yah, kalo capek tinggalin aja. Aku udah biasa ditinggalin soalnya, so it's not a big deal. Wkwkwk *curhat mulu*

Short story, aku akhirnya diterima di jurusan Bahasa Inggris di salah satu universitas negeri lewat jalur tulis.
Bahagia? Bukan lagi.
Bangga? Beuhhh berasa pencapaian maksimal, meskipun orang lain bakal mikir 'meh, jurusan gitu doang', tapi akunya ngerasa seneng parah.
Tapi di detik yang sama, aku juga sadar kalo aku nggak bakal bisa lanjutin mimpi ini.

Dan ya, seperti yang semua orang tau. Aku terdampar di tempat lain, berpakaian putih-putih (bukan pocong atau kunti tapiiii!), dan mempelajari sesuatu yang bener-bener nggak pernah ada di bayangan dari dulu.

Perih? Duh nggak usah ditanya.
Sedih? Ampun, tiap malem nangis mulu tapi ga bisa apa-apa.
Marah? Rasanya pengen nyalahin semua manusia di bumi.
Sakit? Banget. Syukur-syukur nggak pake depresi hahaha.

Tapi ya gitu. Life must go on.
Tiga tahun penuh perjuangan terlewati, dengan banyak keinginan mundur di dalamnya, dengan banyak sumpah serapah (serius, aku sering banget nyumpah-nyumpah nggak jelas waktu itu), dengan penyesalan tapi juga diiringi banyak pengharapan, kebanggaan, dan penerimaan.

Ku kira, mimpiku bakal mati gitu aja setelah aku masuk ke lingkungan yang jauh melenceng dari harapan.
Ternyata, seiring waktu berjalan, dengan aku yang masih nyimpen rapat-rapat keinginan kecil itu, aku mulai nyoba mikir positif.

Mungkin, emang harus gitu jalannya.
Mungkin, itu yang terbaik yang bisa ku dapetin.
Mungkin, kalo nggak di situ aku nggak akan ketemu temen-temen super awesome yang nggak pernah lelah ngasih support.
Mungkin, kalo nggak dengan cara itu aku nggak akan ada di titik sekarang.

Hari ini, aku tengah mengupayakan mimpi baru.
Kita nggak pernah dibatasin kan, harus punya mimpi berapa? So yeah, sementara mimpi yang satu belum ada jalan buat tumbuh, nggak salah kalo kita nyari interest baru.

Menjadi mahasiswa lagi, dan mengambil peminatan berbeda dari jurusan sebelumnya, butuh keberanian dan keyakinan yang kuat.
Meski masih berhubungan, tapi pindah itu nggak selalu mudah.

Awalnya belajar ngitungin beban pencemaran air, limbah, tanah, udara, BOD, COD, DO (Bukan Do Kyung Soo ya!), pH, suhu, kelembaban, kekeruhan, NOx, SOx, (PSx juga sekalian) dan sederet parameter lain yang menyenangkan menjadi kehebohan ngurusin manajemen K3 di perusahaan dan industri.

Menjadi mahasiswa lagi, bukan berarti segalanya jadi lebih mudah.
Biasa apa-apa banyakan praktek di lapangan dan langsung terap, sekarang harus mikir kritis dan pinter nganalisis, ngajuin pendapat, bahkan harus adu argumen.

Tugas juga nggak berenti-berenti ngalir aja kayak kran bocor.
Hampir seluruh tugas harus pake mikir banyak, telaah jurnal (berbahasa inggris pula), dan lama-lama capek juga.
Dulu, perasaan ngerjain tugas nggak pernah seribet ini. Paling banter ngitung pake rumus, ngerancang dikit2, tulis tangan, langsung jadi. Apalagi bisa nyontek punya Iis dan mentemen yang lain wkwkwk.
Yang paling ribet ya itu, laporan berlapis, ditambah tugas akhir yang menguras tenaga pikiran dan air mata. Tapi akhirnya lewat juga.

Tapi sekarang mau nyontek begimane (meskipun kadang masih juga minta arahan wkwk), tugasnya beda-beda terus, presentasi hampir selalu individu, sekalinya kelompok aku malah ngerasa kayak dibebani.

Mungkin dulu kalo ada tugas kelompok, aku nggak pernah didesak dan dikasih deadline. Seringnya ngerjain last minute dan nggak ada yang protes wkwk.
Sekarang, rasanya kayak apa ya? Ditungguin orang, diatur-atur harus gini harus gitu, sharing pendapat tapi hampir selalu nggak sejalan.
Entah cara mikirku yang nggak nyampe kesitu, atau akunya aja yang nggak siap adu argumen.

Tapi enaknya, temen-temen sekarang aktif semua. Jadi, aku bisa melebur ke bayang-bayang. Ngerasain sesekali gimana kita nggak ngapa-ngapain tetiba tugas uda selesai aja hahaha. Kalo udah begini antara bersalah dan seneng campur campur xD.

Nah bagusnya, nggak pernah sekalipun aku nyesel. (Apa karena baru 2 semester? Semoga seterusnya yaaa).
Beda kalo dulu, tiap nemu kesulitan dikiiiiiiittttt aja, aku pasti ngoceh.
"Nyesel. Siapa suruh masuk sini. Pengen berenti aja. Capek. Kesel"
Selalu nyari-nyari alasan buat nyalahin orang.

Di sini, aku ngejalanin semuanya nggak pake ribet.
Meskipun suka ngeluh, itu nggak sampe marah-marah dan nyesel-nyesel segala.
Mungkin karena ini pilihanku sendiri? Mungkin karena dibalik keluhanku itu, sebenernya aku menikmatinya.
Mungkin, ini karena aku mulai punya mimpi baru?
Bisa jadi.

Intinya, mimpi boleh berubah.

Seperti Go Hye Mi di Dream High, awalnya pengen jadi penyanyi opera terkenal yang sekolah di Juilliard, tetapi takdir menaruhnya di Kirin, mengantarkannya menjadi Idol, dan berakhir menjadi penyanyi solo.

Mungkin jalan yang dilalui harus menyimpang, sebelum akhirnya kita bisa menemukan kembali jalan yang mengarahkan ke mimpi besar yang kita kira sudah lenyap, ternyata hanya tertidur dan menunggu dibangunkan.

Mungkin sekarang aku sedang mengejar mimpi baru, tetapi aku tau, kalau sesungguhnya keinginan lamaku itu belum mati.

Aku percaya, jika memang aku tetap berupaya, aku akan bisa meraihnya.
Mendalami bahasa lain, agar bisa kemana-mana.
Atau, aku akan bisa kemana-mana, untuk mempelajari bahasa-bahasa lain di luar sana.
(Ada aamiin?)

Nah. Keep your dreams alive.
Never let them dying inside.
We can achieve it, if we believe.

Best regards,
Tamy♡

Jumat, 10 Februari 2017

Sehangat Matahari Pagi

Posted by Tamy on Februari 10, 2017 with No comments

Untuk kamu yang selalu tersenyum, tiap kali kita bertemu muka, tiap kali kita berpapasan di jalan.
Senyum yang singkat, namun hadirnya seperti sinar matahari pagi, hangat, tidak menyengat.

Meski tak ada sapa, tak pernah sempat berbicara, tapi aku selalu bahagia kala semesta mempertemukan kita.

Tak banyak yang ku tahu tentangmu.
Selain nama, tempat tinggal, dan beberapa teman yang juga temanku.
Bahkan, di sosial media-pun aku tak punya gambaran yang manakah akun milikmu.

Sudah lama sekali sejak terakhir kita melibatkan kata-kata.
Tak pernah secara sengaja, selalu dibumbui kebetulan yang menghangatkan.

Ketika itu, malam api unggun di salah satu perkemahan sabtu-minggu.
Aku hanya mampir sebagai tamu, mencoba mencari seorang yang ku kenal, namun malah dihadapkan pada dirimu.
Duduk di situ, memegang gitar, menyanyikan salah satu hits milik Ungu, Laguku.
Sambil tersenyum ke arahku. Lebar. Tanpa ragu.

Kebalikannya, aku mematung dan tak tahu harus berlaku.
Namun semesta tak membiarkanku terpukau terlalu jauh.
Kau menghentikan lagu itu, menunjukkanku sosok yang tengah ku cari, dan memutus satu menit paling manis dalam hidupku.

Kali lain, aku tengah menunggu. Menunduk. Menghindari matahari yang tak mau berkompromi.
Sekalinya aku mengangkat wajah, satu senyuman lain ku dapati.
Kamu, di atas motor yang berjalan, masih menyempatkan memberiku satu cengiran khas yang selalu ku suka.
Yang menulariku untuk menarik sudut bibir, dan membentuk senyuman juga.

Sayangnya, aku sering melewatkan senyummu. Sekali, aku terlalu fokus pada jalanan di depanku. Orang lain yang memberiku tahu bahwa kamu sempat memberiku senyum seperti biasa, padahal aku sama sekali tidak menyadari keberadaanmu.

Pernah juga, aku melihat kamu membonceng satu sosok gadis cantik, namun tetap memberiku senyum.
Meski sedikit tertahan, dan ada keraguan.
Tapi aku sungguh tak merasa kesal dan marah. Biasa saja.

Mungkin, memang hanya sebatas situ arti kehadiran kita satu sama lain. Teman, yang tidak terlalu akrab dan kenal. Namun tetap mampu memberi kesan lain yang baik.

Bisakah, kita begini saja terus? Tak perlu kenal terlalu jauh. Cukup senyum malu-malu yang menjadi kebahagiaan tak beralasanku.
Tak perlu mengikutsertakan perasaan dan hati, karena aku tidak mau membiarkan rutinitas menyenangkan ini berakhir pilu.

11 Februari 2017
Dari T, untuk T.

Rabu, 08 Februari 2017

Masih Betah Kan, Jadi Temenku?

Posted by Tamy on Februari 08, 2017 with No comments

Coy, males sebenernya mau bikin surat buat you. Pasti bakal panjang banget jadinya. Tapi berhubung si Tde udah pernah ku suratin, bolehlah kesempatan emas ini ku kasih ke dirimu juga hahaha.

Hey, Iis Qori Lestari! Do you remember the first day we met, more than 4 years ago?

Di situ udah keliatan kalo kita bakal cepet akrab, baru juga kenal sehari-dua hari langsung nyambung aja ngobrolin orang wkwk.
Ternyata ditakdirin buat satu kelas, berujung duduk sebelahan, dan bertahan selama tiga tahun full. Sayang, waktu wisuda aku nggak bisa duduk sampingan sama peraih IPK tertinggi seangkatan ya hahaha.


To be honest, you're my favorite seat-mate in the class. Why?

Karena, kalo duduk sebelahan sama elu itu bawaannya nyambung aja denger penjelasan dosen, lebih mudah paham sama materi setelah kita diskusiin bareng, jadi kalo pas ulangan bisa cepet inget. Mungkin efek pintermu jadi nular kali ya.

Terus, meskipun tergolong mahasiswi supeerrr rajin dan lurus banget (kala itu), dirimu mau aja denger curhatanku yang itu lagi-itu lagi hampir setiap hari. Padahal duduk paling depan, dan dosen lagi ngejelasin materi. Eug minta maaf sudah banyak membawa pengaruh buruk buatmu. *Tapi masih aja diulang terus*

Sebagai sesama introvert, aku antara bersyukur dan kzl kalo kepaksa harus ketemu orang baru kalo lagi bareng elu. Saling dorong ga ada yang berani ngomong, ujung-ujungnya tetep aja aku yang kena. Hhhh dasar cemen!

Terus ya, kita pernah bertanya-tanya kok kita nggak pernah berantem?
Kan katanya kalo orang temenan deket banget itu pasti ada berantem hebatnya.
Lah kita? Paling juga saling coret di buku masing-masing, atau saling bajak hape satu sama lain.
Yang lumayan parah sih, waktu liburan ya.
Aku keluar kamar sama temen satu lagi, lupa bawa kunci, sementara you di dalem udah tidur.
Terus ku panik banget, dan gedor-gedor dengan heboh takutnya situ ga bangun dan kita gabisa masuk.
Eh, rupanya pintu langsung kebuka dan you berdiri di depan pintu ngomel-ngomel bilang berisik.
Disitu ku ngerasa bersalah campur badmood campur kesel, sampe pagi diem-dieman.
Tapi akhirnya ngobrol lagi biasa aja kayak ga pernah ada kejadian itu hahaha. Eug udah minta maaf belom sih? Maaf eaaa kalo gue lupa hahahaha.

Pernah juga, nggak sengaja ngatain elu bodoh waktu itu, ya is? Jahad banget yaampun padahal semesta alam raya juga tau kalo elo itu jelas jelas pinter & lebih pinter dari akyu wkwkwk

Meski sepanjang perjalanan kita kenal, dari zaman jahiliyah masih jadi rakyat jelata yang kemana-mana ngangkot, nebeng, bonceng tiga kayak cabecabean, sampe akhirnya naik level ikut nyumbang kemacetan lalu lintas, sudah banyak njir jing shit shut up kampret anjay ampas even F-word yang terlontar, kita tetep ga pernah ribut ribut yah. Hebat.

Apaan lagi nih? jadi bingung sendiri.

Oiya, makasih buaannyyaaakk selama ini sudah jadi tong sampah untuk acara 'Dengarkan Curhatku' mulai dari season 1 sampe season sekian, mulai dari nyeritain si A sampe si Z, termasuk si itu yang harusnya nggak ku ceritain mengingat ada something yang cuma diriku yang tau wkwkwkwk. Elu patah hati ga sih waktu itu? Hahahahaha ampun.

Makasih karena se-absurd apapun ceritaku, berapa kalipun aku nyeritain orang dan kisah yang sama, elu masih aja mau dengerin dan nanggepin dengan sarkas yang kadang bikin pengen guling-guling di aspal saking nyebelin dan suka bener.

Makasih buat selalu ada di situ, nggak bosen-bosen ngebantuin berbi terus, nyontekin, bahkan untuk sekedar ditanyain harus bales chat atau nggak, kalimat buat balesnya apaan, kalo aku lagi speechless, terlalu baper, dan gabisa mikir cepet wkwkwk.

Thank you for every laugh you gave to me whenever I'm crying at Cinemas, or whenever I'm at my worst mood.
Adaaaa gitu ya, temen nangis malah diketawain. Kan ga jadi sedih, ujungnya malah ikut ketawa hahaha.

Thanks for being my best sharing partner, teacher, motivator, and best listener and reader.
For being my companion, stood in front of stage where Noah perform. Yelling at Ariel, Uki, David, Lukman, Reza, and Ihsan that afternoon.
Shall we do the same for any other band? The Script or Maroon 5 would be great wkwkwk.
Ngayal babu aja dulu yekan sapa tau jadi kenyataan.

Thanks for that midnight chatting, whenever Real Madrid Live on TV.
Spamming on timeline, commenting about that match, smiling all the time when White Team finally won the game.
For being disappointed, sad, and hurt together back in the day Di Maria, Casillas and Morata is moving away.

For our deep and nonsense conversation, talking about past and future. About every single fictional character that stole our hearts. For all the solarias and McD's Sundaes. For Batagor and Mie Ayam. For accepting my "KDrama-Obsessed" thing even when you don't like and understand it.

And For everything. I lost my count.
Truth is, you know I love you and I owe you that much. Right?

If Keara has Dinda, Anya has Tara & Agnes, Raia has Erin, then I'm lucky and happy to have you around, as my bestie.

I hope all of your wishes, dreams, and prays, will come true in the right time with the right way.

Semoga aku nggak perlu lagi ngomong "Makanya, punya pacar dong!" agar supaya populasi jomblo disekitarku segera berkurang, dan biar aku juga ikut kelimpungan pengen punya pacar juga wkwkwk.

Semoga wisuda kali ini kembali mendapat "Dengan Pujian" dan psssttt, ajak-ajak aku lagi yes? Hahaha.

Jangan bosen-bosen ngingetin aku buat move on, meskipun yang diingetin bebalnya minta ampun wkwkwk.

Jadi, masih betah kan temenan sama aku sampe sekian puluh tahun lagi? Awas kalo nggak!

Bales ya, pake surat juga atau kalo terlalu repot gantinya pake traktiran ajah.
Deal?

Hai lagi, Teman Lama.

Posted by Tamy on Februari 08, 2017 with No comments

Hai lagi, kamu yang nama lengkapnya berisi tiga kata.

Tahun lalu, aku juga sempat menulis satu surat untukmu. Dan seperti yang itu, kali ini aku juga tergelitik untuk berbicara lagi denganmu.
Meski hanya pembicaraan satu arah, tak apa.

Surat ini bukan surat cinta, karena sepertinya kita berdua tidak pernah berada dalam lingkaran penuh emosi itu.
Jadi, anggap saja ini sebentuk "Say Hi" yang tak pernah berani ku katakan padamu, yang bahkan mungkin tak akan pernah kau baca.

Apa kabar, kamu?
Sepertinya, doaku tahun lalu terkabul, ya?
Kamu sudah menyelesaikan pendidikanmu, mendapatkan gelar di belakang namamu, dan mulai menjalani kehidupan sebagai lelaki yang super sibuk hingga bahkan tak sempat meng-update laman sosial mediamu.
Dari dulu juga begitu, sih haha.

Lucu, aku mengenalmu sebagai seorang anak kecil dan sekarang dihadapkan pada sosok lain yang hanya pernah kulihat sekali secara langsung.
Itupun, hanya berupa lirikan ragu-ragu.
Tanpa ada keberanian untuk melihat terang-terangan, apalagi menyapa dengan ramah.

Kau mungkin berubah, tetapi aku tau bahwa aku menemukan orang yang benar. Orang yang sama dengan si pintar dari tahun-tahun di masa kecilku.

Ah, jujur sekali waktu aku sempat berharap bisa membuka obrolan denganmu lagi.
Sekedar pertanyaan standar antara dua orang yang sudah begitu lama tidak bertemu.

Tapi tak perlu, mengingat hubungan kita bahkan hanya setingkat lebih tinggi dari orang asing.
Kita tak punya alasan untuk bercerita kembali, mengingat sudah terlalu banyak tahun terlewat tanpa percakapan basa-basi.

Cukup begini saja sekarang.

Aku yang tersenyum sendiri ketika akhirnya menemukan namamu di tab notification, atau melewati timeline sosial mediaku dengan satu foto, sebulan sekali.

Semoga setiap urusan di hidupmu lancar, dan kamu bahagia selalu.

Dan semoga, ada satu hari saja dimana takdir secara sengaja ataupun tidak, mempertemukan kita.
Untuk sekedar bertegur sapa, mencoba mengingat kembali masa-masa yang mungkin sudah terlupa.
If universe let us to meet again, someday in the future, I'll call your name like I used to do.

Sincerely,
Tamy, yang namanya sering kamu plesetin.

Thank you and Sorry

Posted by Tamy on Februari 08, 2017 with No comments

Hey.
Maafkan aku yang lagi-lagi masih menyeret bayangmu untuk ku jadikan tujuan dari surat kali ini.

Tapi tenang, aku bukannya mau marah-marah atau bersedih-sedih, menyalahkan keadaan, membenci setiap kesalahan, dan bertingkah menyebalkan dengan terus menyimpanmu dalam kenangan.

Setelah denial sekian lama, akhirnya aku tau bahwa semesta memang bukan milik kita berdua saja.
Banyak manusia lain hidup di dalamnya, mengisi setiap jengkal daratannya.

Sekarang, setelah satu kejadian yang mungkin bagimu tak ada artinya, tapi menjadi jawaban lugas atas banyaknya tanyaku selama ini, aku mulai memahami apa yang sebenarnya coba kau tunjukkan padaku.

Bahwa, kita memang sudah tidak punya urusan apapun lagi untuk didiskusikan.
Tak ada lagi keterkaitan, yang mungkin sempat menempatkanku pada fase terbaik selama prosesku memahami fungsi hati selain sebagai penetral racun itu.

Bahwa, setiap langkahmu yang kuperhatikan itu bercerita, memberitahuku untuk ikut melangkah ke arah lain. Bukannya diam dan masih berupaya menatap, meski jarak yang terbentang sudah tak mampu lagi dihitung.

Dan,
Akhirnya aku mengerti.
Tanpa perlu aku menyuarakan isi hati.
Tanpa harus ku berpikir sampai mati.

Satu pertemuan sudah cukup.

Cukup, untuk memberiku jawaban pasti.
Cukup, untuk memberiku kekuatan baru.

Kekuatan yang entah bersembunyi dimana selama bertahun lalu, kekuatan untuk menerima dan melepaskan dalam sekali waktu.

Terimakasih, untuk segalanya.
Dan maaf, karena pernah bertingkah naif dan menyalahkanmu atas sesuatu yang ternyata kekeliruanku sendiri.

Thank you,
For let me know how to make peace with myself.
And sorry,
Because I need a long time to realize it.