Kamis, 21 Juli 2016

Menertawakan Diri

Posted by Tamy on Juli 21, 2016 with No comments

Hai hai!
Udah lama nih nggak ngeblog ada kali sebulanan wkwk *tiup debu*

Jadi gini, sekarang kebeneran lagi ada heboh anak abege yang ngehitz, punya followers dan fans super banyak, namun ada juga yang menilai dirinya terlalu kontroversial. Pokoknya hebring aja di linimasa. Nah karena penasaran, akupun ikut 'ngintip' ke akun si dedek ini. Yeah. Kepo at its finest.

Singkat cerita, aku scroll-scroll postingannya. Bacain komen-komen yang bertebaran, dan akhirnya aku ikut komentar juga, dalem hati aja tapi hihi. *anaknya ga siap berantem di kolom komentar*

Nggak, postingan ini bukan buat ngebahas dedek yang baru mau masuk kuliah ini. Bukan.
Tapi, aku cuma mau menelisik ke beberapa tahun lalu, ketika umurku kurang lebih sama dengannya, dan hidupku terasa tak kalah drama.
Untung pelampiasannya berbeda, hehe.

Ada yang bilang, 16-17tahun adalah masa-masa labilnya manusia, khususnya cewek. Apa-apa galau, dikit-dikit drama, pengennya jadi perhatian, dan orang-orang menyikapinya dengan cara yang tidak sama.
Sebagai contoh, dedek itu tadi, dia lebih memilih berekspresi di sosial media, mengumbar sesuatu secara berlebihan untuk ukuran ABG dan menuai banyak kritikan dari orang-orang dewasa, disamping pujian dari dedek-dedek lain yang memilih menjadikannya panutan.
Lalu, ada juga yang sempat berkata bahwa beberapa tahun lagi, dedek ini akan malu dan menertawakan apa yang dilakukannya hari ini.

And I'm totally agree! Know why? Because I did that. I'm laughing myself when I remember what I have done in the last several years, especially about my oh-so-called love life.
If I just could turn back into that time, I won't do such stupid thing.
But yeah, there's always a lesson for every decisions we take.
Let the story begins..

Katakanlah suatu ketika, ada seseorang yang menawarkan pertemanan yang kemudian berkembang dengan cepat, hanya saja tidak pernah sampai pada level lain. Berputar di situ-situ saja.
Aku sadar dong, kalo jalan yang akan kami ambil itu ga akan pernah bisa di satu jalur. Jadi, aku memutuskan mundur pelan-pelan, menjauh, dan berkomitmen dengan diri sendiri untuk melepaskan. (Belum juga sempat jadi milik padahal wkwkwk).
Sedikit banyak memang ada usaha darinya untuk mencari jalan keluar, yang sayangnya ku lihat sebagai jalan buntu. Entah aku saja yang tidak siap berjuang, atau memang dia yang kurang gigih mencoba meyakinkanku hahaha *pengen banget diyakinkan*

Singkatnya, kami sama-sama menyerah. Dia melanjutkan hidupnya, aku pun (berusaha) melakukan hal yang sama.
Setahun pertama terasa cukup berat (OMG, he's not even my boyfriend! Geez-,-)
Aku berkali-kali menyatakan diri sebagai seseorang yang tersakiti (yes, I play victim here), menganggap dirinya sudah memberikan harapan palsu, dan sedikit berharap dia masih mau menghubungiku (he did, by the way).
Karena bingung mau curhat kemana, akhirnya aku menyalurkan kreatifitas ke status-status facebook. Sehari bisa tiga atau empat status yang ku posting, hampir selalu berirama galau, sedih, dan sebagainya yang menjijikkan T_T.
Tapi syukurlah, ketika itu aku hanya kenal satu sosial media saja. Dan masa-masa itu, menulis status galau menye-menye seperti sebuah tren, I mean, everyone did that. Jadi aku santai-santai saja meskipun ketika kubaca ulang beberapa tahun kemudian, rasanya aku mau muntah sampai pingsan.

Tahun berikutnya, aku mulai mengenal twitter dan menemui teman-teman baru. Bagaikan kran bocor, aku menceritakan kisah mengenaskan ini dengan salah satu teman yang baru saja akrab (I don't know what she felt when I did that years ago-,-). Untunglah dia pendengar yang super baik, tidak men-judge ku, paling cuma menyindir-nyindir gagal move on dan sebagainya, meskipun aku sadar harusnya dia mikir ulang apakah mau berteman dengan orang sepertiku ini huahahaha.

Lanjut tahun berikutnya, aku makin aktif di twitter. Facebook ku lupakan. Curhat galau nggak penting ku pun seolah menemukan tempat baru, ditambah beberapa teman yang kurang lebih memiliki cerita serupa.
Intinya, kita (atau cuma aku, ya?) dengan bangga menyatakan kalau kita adalah Korban PHP yang Gagal Move On! *What the hell I was thinking Oh My-_______-*

Seandainya saja objek yang kukatakan PHP alias Pemberi Harapan Palsu itu tahu aku sebegitu hebohnya kala itu (Mungkin dia sempat tahu, tapi ya sudahlah), pasti dia akan ketawa-ketawa ga jelas dan bilang kalo aku ini cewek aneh yang desperate dan ga bisa move on dari dia -which is I am, sebelum kemudian aku terbangun dari mimpi buruk sebagai manusia bodoh- padahal dulu aku sendiri yang menyerah darinya hahahaha.
Aku jadi merasa berdosa.
Maafkan aku yah aku jahat banget masa ngata-ngatain dan nyalah-nyalahin kamu yang udah bahagia. *Ku emang ga berani ngomong langsung. Yaaaa menurut ngana?*

Pokoknya sekarang, aku mah bisa ketawa-ketiwi aja sambil rasanya pengen ngehapusin semua status-status, tweet-tweet, dan curhatanku dari memori orang-orang yang terlanjur tau. Malu coy sebenernya huahaha! *sembunyi di balik badan Taecyeon*

Jadi begitulah, pelajaran berharga dari kehebohan dedek hits ini akhirnya menginspirasiku untuk bercerita mengenai zaman-zaman suram ketika labil masih setia bercokol di pikiranku.
Yah, semoga nanti kalo dedek itu liat kelakuannya yang sekarang dia bisa ketawa juga.
I'm not a hater, btw. Cuma kalo ada yang ngebecandain ikutan ngakak sih hehehe...

So yeah, segini aja dulu ya. Kapan-kapan aku mau curhat lagi. Siapa tahu kelak ketika beberapa tahun lagi aku buka blog ini, reaksiku akan sama dengan apa yang kulakukan sekarang terhadap kejadian bertahun lalu. (Pede banget umurnya sepanjang itu, wkwkwk)

Dahhhh see you next post! Thanks for reading.

With Love,
Tamy

Selasa, 28 Juni 2016

Is it just me?

Posted by Tamy on Juni 28, 2016 with No comments

Mungkin hanya aku, yang terlalu mudah mengaitkan segala sesuatu.

Mungkin cuma aku, yang tak perlu mengingat dengan kuat untuk kembali menemui kenanganmu.

Mungkin, aku saja yang tak pernah lelah mengacak-acak masa lalu yang sudah lama kau tinggalkan.

Sesederhana ketika melihat gerimis, ingatanku langsung terarah pada Alia dan Sunny.
Terbayang betapa Alia begitu suka gerimis, yang menurutnya lebih romantis daripada hujan.

Atau, ketika menyaksikan salah satu klub sepakbola di benua eropa yang tengah bermain di layar televisi, aku kemudian merenung dan berpikir apakah kau juga sedang menonton saluran yang sama?

Dan juga, hal sepele lain seperti ketika ku dengar seseorang menyebut namamu, meski sebenarnya orang itu tidak memanggilmu.
Aku tak mengelak bahwa selama sedetik jantungku berdetak lebih kencang, membuatku kadang tanpa sadar mengedarkan pandangan, mencari-cari pemilik nama itu. Namamu.

Bahkan, aku berandai-andai pernahkah kau melakukan hal yang sama?
Teringat denganku hanya karena hal kecil dan sederhana?
Saat melihat klub bola favoritku bertanding atau memenangi kejuaraan, mungkinkah kau mengingat salah satu penggemarnya yang dulu pernah bercerita kepadamu?

Sounds stupid? Or lil bit crazy? Yeah. I know.

Tapi kemudian aku sadar, aku tidak sendiri.
Pasti banyak hati lain yang juga pernah merasakannya. Mungkin tidak persis sama, karena setiap manusia jelas berbeda. Namun tentu saja perasaan itu tetap ada.

Itu dulu, saat duniaku masih berporos kepadamu.
Saat aku masih memikirkan segala kemungkinan-kemungkinan yang akhirnya tak pernah terjadi.
Ketika aku berpikir bahwa ternyata hadirmu tak sesingkat yang terlihat, tak sesebentar yang terasa.
Kau -atau mungkin hanya ilusi dirimu yang kucipta- terus mengikuti perjalananku, bahkan ketika aku tau kita sungguh sudah berjarak jauh.

Tapi sekarang tidak.
Aku mungkin masih sesekali teringat dirimu ketika ada hal spesifik yang benar-benar berkaitan denganmu, bukan seperti ketika aku mencoba menghubungkan segala sesuatu tentangmu.

Yeah, Time heals. It's real.

Sedikit demi sedikit perasaan itu terkikis, hingga sekarang ketika seseorang menyebut namamu aku tak lagi jumpalitan seperti dulu.
I grow up. I learn. I let go.
And it really really helps.

Katanya, kita belum benar-benar melupakan seseorang ketika kita masih membicarakannya, seperti yang kulakukan sekarang.
Tetapi aku sungguh bersyukur bisa bercerita tentangnya tanpa sesak di dada, tanpa tumpukan rasa kecewa yang dulu sempat bersemayam.

Nanti, ketika aku sudah menemukan objek -atau subjek- baru untuk diceritakan, aku tak akan lagi mengangkat kisahmu, kisah kita dulu. I promise!

Jumat, 17 Juni 2016

What If?

Posted by Tamy on Juni 17, 2016 with 3 comments

Aku lelah berandai-andai.

Karena beberapa tahun terakhir, hidupku selalu dipenuhi pilihan-pilihan sulit yang kemudian membuatku memikirkan apa yang akan terjadi seandainya aku memilih A bukannya B. Atau bagaimana misalnya dulu aku berkeras hati untuk tetap pada pendirian dan mengabaikan keadaan?

Tak baik sebenarnya mengungkit lagi cerita lama.
Tapi sebagai manusia, berjenis kelamin perempuan pula, aku sungguh mengedepankan perasaan lebih daripada logika.
Mungkin aku gila, masih saja menelisik kembali luka-luka bertahun lalu yang kukira sudah sembuh, namun ternyata sakitnya tetap terasa. Tak berkurang, meski tak sesering dulu.

Jujur, aku memang sadar jika hidupku tak bisa ku tentukan sesuai inginku sendiri.
Sejak kecil aku selalu diarahkan, tetapi baru setelah lulus SMA aku merasa hal itu ternyata berpengaruh besar.
Aku sedih jika mengingat kembali.
Aku benci harus mengakui bahwa aku terlalu lemah dan tak bisa melawan.
Seandainya aku bisa memutar waktu -kalimat yang mungkin hampir semua manusia pernah mengatakannya-, aku benar-benar ingin hidup sesuai inginku. Apapun resikonya, aku akan menerima dengan hati yang lapang. Dan, sepertinya aku akan jauh lebih bahagia jika saja aku lebih pintar berargumen.
Ah, coba aku masuk IPS saja dulu. Pasti lebih mudah beradu pendapat, karena rumus tak akan bisa menggoyahkan keinginan orang.

Beberapa tahun terakhir, ku coba berdamai dengan masa lalu. Menganggap bahwa apa yang kulalui kala itu adalah hal terbaik untukku kelak. Aku melakukan setiap hal dengan baik, tak pernah berniat memberontak, bahkan berhenti.
Meski terkadang penyesalan kembali datang, aku tetap berusaha maju hingga akhirnya tahun-tahun itu terlewati dengan sangat baik.

Tapi, apa yang ku dapat setelahnya? Tak ada.
Dengan segala usahaku untuk menjadi yang terbaik, setidaknya dengan pencapaianku yang tak buruk ini, aku tetap saja kesusahan.
Dulu, mereka bilang ini jalan yang benar. Jalan yang akan lebih mudah dibanding jalan pilihanku.
Tapi lihatlah aku sekarang? Hah.

Mungkin aku keterlaluan, tapi sungguh aku menyesal mengikuti pilihan orang lain ketika itu.
Di sini aku mulai sering bertanya-tanya.
Coba saja dulu aku berkeras hati.
Coba saja dulu aku menangis meraung-raung di hadapan mereka dan berkata tidak? Bukan hanya meratapi nasib dengan meringkuk di balik selimut, membiarkan tetesan air mata membasahi bantal tanpa suara.
Coba saja dulu aku mengabaikan segala bentuk pengabdian dan memilih membangkang?

Mungkin aku tak perlu berandai-andai sekarang.
Meskipun jika ternyata hal yang terjadi padaku tak lebih baik, setidaknya aku tak bisa menyalahkan siapapun selain diriku. Sudah tentu aku harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kupilih.
Tidak seperti sekarang, hampir setiap kali aku terpikir masalah ini aku selalu saja merasa sakit hati, kesal, marah, putus asa, dan mulai menyalahkan orang-orang yang menurutku salah.
Padahal, kalau dipikirkan lagi, ini juga salahku...
Salahku yang terlalu naif dan membayangkan bahwa kalimat "Ini Untuk Kebaikanmu" itu benar adanya.

Shit.
Just leave all the bullshit far away.
You can't choose other people's way to happiness.
You'll never know how it feels until you feel it by yourself.
So please, people out there...
Jangan pernah memaksakan kehendakmu untuk kehidupan orang lain, apalagi terkait masa depannya.
It sucks. It really sucks, I told ya.

Kamis, 12 Mei 2016

Seleraku Mungkin Bukan Seleramu (1)

Posted by Tamy on Mei 12, 2016 with No comments

Beberapa Minggu ini, aku mulai menyadari sesuatu yang sebenarnya sangat mendasar dan  selalu ada di kehidupan sehari-hari.
Selera.
Setiap manusia dilahirkan dengan begitu banyak perbedaan, termasuk apa yang disuka dan tidak.
Dan sebagai manusia lain, tentu kita tak berhak untuk mendikte, menentukan, bahkan men-judge pilihan orang karena kita pun punya selera tersendiri, kan?

Mengamati pergerakan timeline twitter, aku sudah terbiasa dengan adanya twitwar, alias perang kata-kata melalui sosial media dengan 140karakter tersebut.
Ketika itu, tanpa sengaja aku menemukan akun seorang public figur yang entah apa asal muasalnya tiba-tiba menyinggung salah satu boyband korea yang punya fans sejuta umat, sehingga akhirnya terjadilah twitwar heboh antara si public figur ini dengan fandom-fandom (wadah tempat berkumpulnya fans-fans yang sangat solid dan kompak. Semacam Sahabat Noah/Your Raisa seluruh cabang) yang ada di Indonesia.
Tak hanya itu saja, si public figur ini juga menyindir kalangan KPopers Berhijab. Katanya lebih baik melihat cewek-cewek dengan pakaian minim di diskotik daripada cewek-cewek hijabers yang nangis nonton konser kpop.
Langsung saja akunnya diserbu oleh banyak sekali hijabers yang suka KPop dengan segala kalimat-kalimat yang cukup memusingkan hingga tercipta satu hashtag yang akhirnya menjadi trending topic beberapa lama.

Aku, sebagai orang baru yang terkena Hallyu Syndrom (3 tahun belakangan), belum begitu paham Musik-musik Kpop (Karena lebih cenderung suka KDrama), juga sebagai salah satu cewek berhijab (meskipun masih dalam tahap belajar) cukup shock dengan kejadian ini.

Pertanyaan bermunculan dibenakku terkait kejadian tersebut, di antaranya :
1. Apa tujuan si public figur ini menyentuh ranah KPop dengan tiba-tiba? Tak tahukah dia penyuka Kpop di Indonesia ini bukan hanya seribu-dua ribu orang?
2. Apakah dia dengan sengaja mengangkat tema ini agar meningkatkan impression, menambah followers, serta agar bisa lebih terkenal lagi?
3. Apa dasarnya membandingkan cewek-cewek diskotik dengan cewek berhijab yang suka Kpop? Apakah yang berhijab tak boleh punya idola?
4. Kenapa dia repot-repot ngurusin selera orang? Toh orang-orang tersebut sama sekali tak ada hubungan dengannya, hobi orang tersebut tak sedikitpun merugikannya. Jadi kenapa?
5. Apakah semua orang harus sependapat dengannya? Harus satu selera? Tidak kan?

Yah, begitulah aku menanggapi kejadian beberapa waktu lalu, dengan banyak sekali pertanyaan yang tak pernah ku tahu jawabannya.
Dan setelah berpikir lagi, aku menyadari bahwa kita tak bisa memaksakan seseorang untuk suka atau tidak suka pada sesuatu, kita juga tak boleh memandang hobi seseorang dengan pikiran negatif karena kita tidak tahu apa manfaat yang didapatnya karena hobi itu, termasuk menyukai musik-musik Kpop dan ngefans dengan member-member boyband korea.
Kemudian aku mengerti bahwa sesungguhnya beban yang ada di pundak wanita berhijab itu sangat berat. Kita harus menjaga sikap dan perilaku, serta harus mencerminkan sosok muslimah sebaik-baiknya.
Akan tetapi, tak semua wanita berhijab kemudian langsung bertransformasi menjadi wanita solehah. Tentu kami ini masih perlu belajar untuk lebih baik lagi, yang mana hal itu tidak mudah.
Jadi, ku pikir tidak ada salahnya menjadi wanita berhijab yang punya idola, asal tidak berlebihan, tidak melupakan sang pencipta dan Rasul-Nya, serta tidak sampai membuat kita melupakan kewajiban sebagai seorang muslimah.

Jika menjadi wanita berhijab itu berarti segalanya harus dibatasi dengan sangat lekat, tentu akan menjadi beban lain yang bisa membuat kita tertekan dan akhirnya bisa menimbulkan banyak pikiran-pikiran buruk bahwasanya mencoba memperbaiki diri dengan berhijab itu terkesan ribet dan nggak mudah. Nah, kita pasti tidak mau generasi muda berpikir seperti ini, kan?

Wah, jadi melantur kemana-mana. Pokoknya begitu. Intinya, selera manusia itu beda-beda. Sama kayak makan mie instan. Mungkin aku sukanya Indomie Goreng dan Indomie Goreng Kriukk, nah belum tentu kamu suka juga kan? Mungkin saja kamu lebih suka Mie Sedaapp atau Sarimi Isi Dua.
Atau, mungkin aku suka musik Pop tapi ternyata kamu sukanya rock n roll, dangdut, dan jazz.
Selera kita nggak sama kan? Dan kita nggak perlu saling menyalahkan dan mengejek, karena ini selera pribadi. Kesukaan masing-masing.

Jadi, ayo kita hormati dan hargai selera orang lain. Kita tak perlu memaksa orang untuk menyukai apa yang kita suka dan kita juga tak bisa memaksakan diri untuk menyukai apa yang orang lain suka.

Segini aja dulu ya cerita tengang urusan KPop. Next post aku mau bahas tentang selera dalam dunia KDrama. See you soon!
Thanks for reading and visiting^^

Love,
Tamy

Kamis, 17 Maret 2016

Favorit Sepanjang Masa

Posted by Tamy on Maret 17, 2016 with No comments

Mungkin ini postingan kesekian yang isinya melulu tentang karakter fiksi dan berbau negara ginseng sana. Tapi lagi-lagi aku hanya ingin menulis, mengabadikan, serta mencatat apa yang tengah membuatku bahagia sekarang untuk kemudian bisa ku buka kembali ketika aku mungkin ada dalam mood super buruk. Kurasa secuil tulisan ini akan bisa membuat senyumku kembali terbentuk otomatis nantinya.

Okee cukup dengan hal mellow nya. Mari kita mulai berkisah!

Kalian yang udah ngefollow twitter-ku @laptamy dan mungkin sempat membaca postingan-postingan di blog-ku mungkin sudah mengerti interest ku tentang K-DramaLand beserta para aktor dan aktrisnya yang begitu mempesona. So, kali ini aku bakal ngebahas atau lebih tepatnya nyeritain asal mula aku terjerumus *yaelah* dan akhirnya tenggelam dalam Korean Wave sampe sekarang.

Jadi, setelah aku me-review beberapa tahun ke belakang, ternyata aku sudah menonton lebih dari 20 KDrama yang tergolong sangat sedikit dibanding para KDrama Lovers sejati di luar sana. Tapi tak apa, aku tetap bangga! HAHAHA. Dan setelah diamati dan difilter sampai beberapa kali, terpilihlah 6 Drama Favorit Sepanjang Masa-ku yang akan kubagi ceritanya dengan kalian setelah ini. Aku baik kan? Hihihi.


Baru tahun 2012 aku tertarik dengan KDrama. Sungguh ketinggalan jaman sebenarnya, ketika orang-orang sudah mulai kena virus Hallyu beberapa tahun sebelumnya, aku masih saja cuek dan tidak peduli padahal di sekelilingku (teman-teman dan sepupu) sudah rata-rata terjangkiti Korean Wave. Tapi tak masalah, lebih baik terlambat dibanding tidak sama sekali kan? Hehehe.

Oke, cukup basa-basinya. Here we go!

1. BOYS BEFORE FLOWERS

Drama yang menjadi cinta pertamaku tentu saja Boys Before Flowers yang merupakan Drama Sejuta Umat, sangat populer dan berkesan. Sangat wajar ketika Soompi akhirnya menganugerahi Drama ini sebagai pelopor Korean Wave sehingga menyebar hingga level internasional. Sungguh titik awal yang tepat.

Karakter empat cowok keren dengan latar belakang dari keluarga kaya raya dan didukung dengan tampilan fisik memukau, gaya yang sangat khas, angkuh, memiliki sifat penguasa sungguh sangat tidak mungkin diabaikan. Lee Min Ho, Kim Hyun Jung, Kim Bum, sama siapa satunya aku lupa hihi yang tergabung dalam F4 ini sukses banget menarik minat para penonton buat ngikutin kisah mereka di drama ini, termasuk aku. Apalagi ditambah kehadiran Go Hye Sun sebagai Geum Jan Di yang super imut namun berkarakter kuat dan nggak menye-menye itu benar-benar adorable.

Apalagi tentang kisah cinta segitiga antara Gu Jun Pyo - Geum Jan Di - Yoon Ji Hoo sangat mendebarkan. Belum lagi masalah Nyonya Besar Grup Shinwa alias Ibundanya Jun Pyo yang super sadis. Ewww..

Oh iya, disini aku lebih suka sama Kim Hyun Jung sebagai 2nd Lead, tapi aku nggak benci Lee Min Ho yang jadi 1st lead nya. Beruntung aku gaperlu gagal move on karena drama ini hahahah.

Satu lagi, Soundtrack nya pun sangat easy listening. Yang paling favorit itu sih yang "Almost Paradise…... nanananananaa" terus yang bagian "Baby I Love You I'm Waiting For You~~" Hampir semua lagu yang ada di daftar OST BBF ini enak buat didengerin deh.

Pokoknya, BBF adalah drama pertama yang ku tonton dan ku baperin bahkan sebelum kata baper itu eksis hahaha. Yang belum nonton sungguh terlalu! Buruan nonton, ini happy ending kok, dijamin kalo nonton rasanya mirip sama Le Mineral, kayak ada manis-manisnya gitu wkwkwk.

2. DREAM HIGH

*Warning : Aku bakal out of control kalo lagi ngebahas drama ini. Siap-siap ya. Siap-siap!*

Take a deep breath and....

Yak! Setelah cukup lama vakum, sekitar 2tahunan aku akhirnya ketemu satu drama lagi yang kemudian masuk ke dalam list drama favorit sepanjang masa.

Teng tereng tereng~~~ judulnya adalah Dream High!

Drama yang berlatar belakang di Sekolah Seni Kirin ini sebenarnya sudah cukup familiar sebelum aku menonton BBF. Kala itu, salah satu teman dekatku tergila-gila dengan sosok Song Sam Dong dan terus menerus menceritakan drama ini di sekitarku. Tapi berhubung aku masih sangat cuek, aku tak begitu ambil pusing.

Drama yang dibintangi oleh Taecyeon, Suzy, IU, Woo Young, Eun Jung, dan Kim Soo Hyun ini berkisah tentang siswa-siswi yang bersekolah di Kirin Art School dan bermimpi untuk bisa debut. Kemudiaaaannnn aku harus mengakui bahwa drama ini memang keren! Daebaaakkkk! 

Pertama nonton, aku langsung memutuskan bahwa Suzy yang super cantik, dengan perannya sebagai Go Hye Mi yang jutek dan sok cuek adalah aktris korea favoritku, disusul oleh kemunculan Taecyeon sebagai Jin Gook/ Hyun Shi Hyuk dengan begitu manly dan manis dan ganteng dan gagah abiisssss (oke abaikan. aku mulai agak diluar kendali kalo lagi ngebahas Oppa cinta pertama dan selamanya-ku ini) sehingga kunobatkan sebagai aktor korea yang paling kusuka sepanjang masa, bahkan hingga sekarang meski bermunculan sosok-sosok namja baru yang tak kalah kece. Meskipun harus berbagi hak milik dengan Tde, aku tak peduli. Taecyeon tetap menjadi Oppa tercinta kami berdua sampai kapanpun hihihi *High Five dulu Ted!*

Lalu aku pun mulai mengenal yang namanya -NgeShip- alias menjodohkan dua orang agar bisa menjadi couple di dunia nyata, dan tentu saja aku langsung ngeship Taecyeon-Suzy yang sayangnya tak bisa terwujud. Jangankan di dunia nyata, di dalem drama aja mereka ga jadian... hiks..

SEMUA GARA-GARA ALIEN GANTENG BERNAMA KIM SOO HYUN! Hih, saking keselnya aku sampe ga mau nonton satupun drama dia gapeduli ceritanya sekeren apa dan ratingnya setinggi apa. Aku dendaaammmmmm!! *keluar tanduk* Huvt.

Ya dipikir aja coba, orang yang bahkan di episode pertama nggak nongol sama sekali malah akhirnya ngebalikin cerita jadi milik dia. Kan kasihan Jin Guk kami... Udah kenal sama Hye Mi dari kecil, selalu ada pas dia lagi nangis, cuma gara-gara dia harus ngebuktiin sesuatu sama Ayahnya dan kudu ninggalin Hye Mi beberapa saat, eh si alien bisa aja nikungnya. Ngeselin. Au ah. *bakar script* Pfffthhhh. 

Hmmm mending kita ngomongin lagu pengisi soundtracknya. Super keren semua. Rata-rata diisi sama pemerannya, mulai dari Suzy, IU, Taecyeon, sampe lagu Dream High yang dinyanyiin semua bintangnya. Apalagi keterlibatan musisi kelas atas macem JYP yang udah gaperlu dipertanyakan lagi track recordnya. Favorit sih lagu Dream High, Winter Child, Maybe, My Valentine, sama lagu yang dinyanyiin IU sama Woo Young pas karaoke.

Tapi, over all ini drama keren sih. Nyeritain perjuangan untuk meraih mimpi sekalipun jalannya susah, meskipun mimpi bisa berubah. Konflik antar teman, percintaan yang abu-abu, keberadaan guru-guru terbaik yang selalu mengarahkan muridnya untuk tidak menyerah.

Kalau saja kita mau mengabaikan endingnya yang menggantung, drama ini bener-bener patut ditonton. Manis tapi ga bikin eneg. Lucu tapi tetep seru. Go watch it, Chingu!

3. HEALER
 3. HEALER
Yaaaakkkk setelah berkutat dengan berbagai drama bergenre sekolah, aku menemukan satu drama yang bercerita tentang dunia kerja, dengan pemeran yang lebih dewasa dan tak kalah mempesona. (Mungkin faktor usia, sudah mulai tak begitu tertarik dengan cerita remaja yang begitu-begitu saja wkwkwk)

Drama yang dibintangi oleh Ji Chang Wook, Park Min Young, dan Maafkanlah aku kurang tau nama aslinya siapa, cuma inget namanya di drama Kim Moon Ho.
Drama dengan 75% adegan action, tembak-tembakan, adu jotos, lalu sisanya teknologi super canggih dan ditaburi sedikit (atau banyak?) romantisme ini benar-benar menyadarkanku bahwa KDrama bukan hanya tentang Chaebol, Marriage Contract, Amnesia, dan cerita mellow lainnya.
Menonton Healer, aku ngerasa super degdegan, lalu terpesona, kemudian tegang, abis itu baper, dan akhirnya netesin air mata juga. Campur aduk tapi bikin penasaran di setiap episodenya. Bikin pengen ngoceh di twitter saking gemesnya.
Well, di drama ini ga usah ditanya. Hatiku sepenuhnya kuserahkan buat Bang Healer. Nggak ada istilah 1st lead atau 2nd lead. Pokoknya aku pilih Bang Healer aja gamau yang lain huahahah.
 
Sempet hampir jantungan dan serasa pengen ngebanting laptop ketika tiba di episode terakhir Bang Healer paling ganteng yang suka duduk di atas atap dan jalan ngelompatin genteng itu tertembak dan berdarah-darah.
Dalem hati "Apa-apaan nonton sekian belas episode malah dapet beginian pas ending?" Antara mau nangis sama mau ngamuk dan nutup laptop detik itu juga, dan untunglah nggak jadi karena akhirnya itu cuma sedikit twist yang dibikin writer-nim buat bikin penonton jantungan. Pffttt.
Soundtrack nya juga kece parah meskipun aku ga gitu hapal semuanya. Paling cuma tau lagunya Ji Chang Wook - I Will Protect You soalnya yang nyanyi Bang Healer wkwkwk.
Jadiii ayo ditonton, biar bisa kenal sama Bang Healer beserta segenap ketampanan dan kelembutan hatinya, plus the way he treat his woman... Awww super so sweet! Recommended!

4. THE HEIRS

Kyaaaaaa, siapa yang nggak kenal drama sejuta umat part 2 ini?
Selain Lee Min Ho - Park Shin Hye - Kim Woo Bin sebagai Kim Tan - Cha Eun Sang - Choi Young Do yang jadi magnet utama, pemeran pendukungnya pun super keren semua. Rata-rata aktor dan aktris papan atas dunia kdramaland. Sebut saja Kim Ji Won aka Yoo Rachel, Kang Min Hyuk sebagai Yoon Chan Young, Krystal sebagai Lee Bo Na, ada juga Kang Ha Neul, dan siapa itu lupa yang berperan sebagai Kim Won, Hyungnya Kim Tan. Serta beberapa nama lain yang tak kalah populer.
Meskipun jalan ceritanya terkesan mainstream : Orang kaya yang dalam drama ini sebagai pewaris tahta, jatuh cinta ke gadis bukan siapa-siapa yang parahnya merupakan anak dari pembantu di rumahnya. Konfliknya semakin menarik ketika muncul pahlawan super jahil yang ternyata tak kalah kaya, yang juga pewaris perusahaan ayahnya.

Jika di drama lain kita akan menemukan nenek lampir atau Ibu Mertua masa depan yang super ganas, di sini kita ketemu sama Abeoji yang dingin dan tegasnya nggak ketulungan. Sampe mau ngusir Cha Eun Sang jauh keluar negeri, bila perlu ke tempat yang nggak tercatat di peta saking nggak mau anaknya berurusan sama anak pembantunya itu. Ngeselin tapi ngeri juga. Takut tiba-tiba dia wafat dan gentayangan akibat udah tua masih aja mau bikin perang dunia *eh jadi ngelantur*

Belum lagi pertarungan sahabat yang berubah jadi musuh, tunangan yang ga rela diputusin, sampe persahabatan cowok-cewek yang bikin iri dan cemburu pacarnya. Drama ini colorful pokoknya. Rame!
Aku tim 2nd Lead disini meskipun nggak benci 1st leadnya. Aku berlapang dada ngerelain Cha Eun Sang sama Kim Tan meskipun harus ngeliat Young Do sedih. 
Oiyaaa deretan pengisi OST juga kece beut, yang ngebeat bagus-bagus yang mellow bikin terharu.

Well, nggak ada salahnya dicoba nonton para siswa siswi SMA jeguk yang rata-rata pewaris perusahaan orang tuanya ini juga. Happy ending kok. Dijamin baper-per-per tingkat nasional! Oiya, kalau nonton aku titip salam buat Choi Young Do ku yang patah hati... bilangin kalo aku masih setia nungguin dia, meskipun yahhhh sekarang dia udah punya gandengan di dunia nyata. Hiks.

5. WHO ARE YOU - SCHOOL 2015
Huwaaaa. Luka lama kembali menganga.
TUH LIAT AJA COVERNYA! MASA YANG SATU MEGANGIN TANGAN YANG SATUNYA CUMA NGEBAWAIN TAS SAMA NENTENG SEPEDA! HIH!
Okey sorry. Mari kita mulai.
Setelah agak sedikit move on dan mulai berusaha melupakan kejadian menyedihkan yang dialami Taecyeon di Dream High, yang mana cewek incerannya diembat sama cowok yang baru nongol di episode dua... kali ini aku menemukan cerita yang mirip meskipun nggak mirip-mirip banget sih.
Well, aku pernah sedikit mengulas tentang drama ini sebelumnya. Coba di cek beberapa belas postingan ke belakang, kalian bakal ketemu. Tapi nggak papa, aku bakal cerita lagi di sini.
Jadi, drama ini settingnya di sekolahan, mengisahkan tentang cewek kembar yang terpisah hingga akhirnya dipertemukan lagi oleh takdir, Lee Eun Bi dan Go Eun Byul yang diperankan Kim So Hyun.
Lalu, ada si tampan Nam Joo Hyuk sebagai Han Yi An temennya Go Eun Byul dari kecil yang pada akhirnya malah jatuh cinta sama kembaran temennya itu. Awalnya aku sangat terhipnotis, apalagi dengan prestasinya sebagai atlet renang... keren beut kan kan kan?
Tapiiiiii, tiba-tiba fokusku beralih ke sosok imut nan cute si anggota boyband BTOB Yook Sungjae yang memerankan Gong Tae Kwang dengan super unyu dan bikin ngakak,  selalu nolongin Lee Eun Bi, ngejaga rahasianya, ngelindungin dia dari mak lampir tukang bully, meskipun cerita hidupnya juga sedih terlepas dari posisinya sebagai anak kepala sekolah yang kamar tidurnya punya fasilitas game sangat lengkap macem di Timezone aja, plus ada tempat tidur di jendela yang kayaknya nyamaannnn banget.
Ku kira drama ini bakal happy ending dengan kejelasan antara pasangan masing-masing. Tapi harapan tinggal harapan, dan perkiraan tak selalu jadi kenyataan.
Ya gimana dong ya! Pikir aja masa Han Yi An malah sukanya sama Lee Eun Bi? Kenapa coba harus ngerecokin Gong Tae Keang yang lagi pedekate? Kan ngeselin!
Lee Eun Bi juga nih ya! Masa orang udah sebaik itu setulus itu nggak bisa diterima aja? Nggak peka apa gimana sih? Gong Tae Kwang udah nggak 'gila' lagi semenjak kehadiran Eun Bi di kelas. Tapi kenapaaaaaaaaa Eun Bi malah milih Han Yi An? Aarrggghhhhh *devil mode on*
Itu lagi si Go Eun Byul, malah kabur dan bikin suasana ribeut. Coba dia mantep2 di Korea ajah. Jadian sama Han Yi An, toh mereka udah saling kenal dari zaman kapan. Terus Gong Tae Kwang sama Lee Eun Bi juga jadian deh! Bagus kan ideku? Win-win solution tuh.
Pokoknya kalo punya hati sekeras baja dan siap baper silahkan nonton drama ini. Good Luck aja kalo suka sama Gong Tae Kwang. Siap-siap patah hati dan masuk ke klub *Penadah Second Lead yang ditolak cewek cantik di Kdrama* bareng-bareng. Ditunggu yah!
Oh iyaaa soundtracknya juga bagus bagus, ada Reset, Return, Love Song, Remember, Pray, banyak! Dan aku download semuanya hahahah. Soundtracknya itu kayak bikin terngiang-ngiang bahkan setelah selesai nonton dramanya.

6. DESCENDANTS OF THE SUN
JRENG JRENG! LAST BUT NOT LEAST.
DOTS ini adalah Drama On-going PERTAMA yang kuikuti perjalanannya.
Ketika postingan ini dibuat, dramanya baru mencapai 8 episode yang mana aku baru nonton sampe episode 6 aja dong.
Jadi, aku nulis ini dalam keadaan penasaran setengah hidup gimana kelanjutan cerita yang masih menggantung.
Tbanks to Putri Trisna Dewi alias Tde alias Sunbae yang berhasil meyakinkan dan menulariku virus Song Joong Ki yang awalnya aku tak begitu tertarik dengan alasan muka Joong Ki Oppa terlalu cute. (IYA, AKU MAH TIPENYA YANG MANLY MACEM TAECYEON, TAPI KALO ADA YANG IMUT JUGA NGGAK NOLAK SIH)
Alhasil akupun minta enam episode awal yang udah susah payah di download tde selepas jam dua belas malam. Iya, Tde rela nggak tidur cuma demi manfaatin kuota tengah malemnya sementara aku cuma nyerahin flashdisk buat diisi file yang didapet deegan penuh perjuangan itu. Sambil cengar cengir pula. Hehehe.
Gomaptaaaaa, Tde-ya!

Singkat cerita (singkat aspaan ini udah kayak kereta api batu bara rantai panjang yang gerbongnya ga abis-abis itu), aku mulai menonton dari episode satu dan berakhir di episode enam dalam waktu kurang dari sehari. Plus, nontonnya sambil spazzing di twitter. Histeris, Ngakak, Terharu, sampe Tercengang.
Rasanya setiap scene itu pengen dikomentarin di twitter, adegan lucu pengen di snapshot semua, pokoknya mah aku pengen nunjukkin sama dunia kalo drama ini tuh kece badaayyyy tornado angin topan!
Oiya sampe lupa... Drama ini dibintangi oleh Song Song Couple yang sedang gencar-gencarnya dishipperin buat jadi pasangan nyata.
Song Joong Ki sebagai Kapten Yoo Shi Jin, tentara ganteng pemimpin pasukan khusus yang mampu bikin cewek-cewek jejeritan cuma gara-gara liat aksi heroik, sweet, modus sampe tingkah lucunya. Plus, senyum paling mempesona itu juga berperan bikin penonton pengen mecahin layar kaca biar bisa liat langsung wkwk.
Lalu ada Song Hye Kyo berperan sebagai Dokter Kang Mo Yeon, si ahli bedah cantique yang secara tidak sengaja dipertemukan sama Mas Kapten tukang gombal dan si dokter ini nanggepin pula.
Akhirnya terciptalah pedekate awkward antara mereka meskipun banyakan gagalnya. Mau kentjan eh mas kapten kudu pergi tugas dijemput Helikopter. Mau nonton bioskop eh Mas kapten ditelpon penting suruh pergi jauh 8 bulan.
Kemudian mereka memutuskan menyerah dengan hubungan yang bahkan belom dimulai secara resmi itu. Hiks.
Tapi nggak mungkin kan selesai disitu?
Dr. Kang pun ditugaskan ke tempat yang sama dengan kapten Yoo. Dan mulai kembali membangun romantisme meskipun sering juga berantem gara-gara salah paham dan beda pendapat. Ujung-ujungnya "Pekerjaanku ini tidak mendukung hubungan kita" blablabla dan pilihan  "Aku menerima permintaan maafmu" dibanding "aku menerima perasaanmu" yang bikin gemesh terus mereka pisah lagi.
Ehhh taunya ada insiden dan Kapten Yoo kudu balik lagi ke lokasi dr. Kang dan episode 6 ditutup dengan Kapten masangin tali sepatu dr. Kang.
Oh iya, selain Song Couple ada juga Jin Goo yg memerankan Sersan Mayor Seo Da Young yang merupakan lacarnya Letnan Yoon (Kim Ji Won). Kisah cinta mereka juga berliku tapi sayang ga bisa dishipperin secara yang satu dah punya binik.
Pokoknya harus wajib kudu nonton dijamin sukaaaakk! Aku aja yang baru nonton enam episode udah masukin drama ini ke list All Time Favorite Korean Drama!
Soundtrack nya juga renyah. Sejauh ini yang paling sering didengerin Always sama You Are My Everything. Ademmmm banget.
Tinggal berharap semoga endingnya bahagia. Terserah mau jalan ceritanya dibikin seribet apa yang pentjng mereka berdua happily ever after together. Bila perlu sekalian di dunia nyata hshahsh! *maunya*
Begitupun pasangan SMSDY dan Letnan Yoon, semoga menemukan jalan keluar dan izin dari Pak Jenderal yah!
Mari kita abaikan saja rumor tak sedap. Mari merancang ending bahagia bersama. Semog writer-nim juga sependapat!
Aamiin-in yah? Aamiinnnn.


Well yeaaahhh akhirnya kelar juga postingan terpanjang yang pernah ku buat! *tepuk tangan*
Mungkin nanti bakal ada Postingan Part 2 seiring berjalannya waktu dan kemunculan drama-drama baru. Yang udah ada di waitinglist sih Moon Lovers dan Uncontrollably Fond. Dramanya IU beserta cowok-cowok ketje dan Suzy sama Kim Woo Bin.
Yeayy thank you sudah mau baca sampe akhir, semoga bisa mendapat sesuatu yang baik dari tulisan abal-abal ku ini. *mungkin keinginan untuk nonton Kdrama?*
YEAH.
Maaf bila ada salah kata dan kealayan. Mohon yang buruk diabaikan saja.

See you next post!
Love,
Tamy.

Rabu, 16 Maret 2016

Menjalani yang dipilihkan (2)

Posted by Tamy on Maret 16, 2016 with No comments

Hai lagi!
Kali ini aku bakal lanjut curhat yang belum kelar.
Happy Reading!

Ehm... tes... tes...
Akhirnya setelah merelakan jurusan pilihan yang tak direstui dan melewatkan tanggal daftar ulang di universitas tersebut sehingga otomatis aku dianggap mengundurkan diri, -Yeah, whatever you name it- akupun bersiap-siap menghadapi ujian tertulis selanjutnya, di salah satu perguruan tinggi kesehatan yang belum begitu populer dan terlihat menjanjikan ketika lulus akan mudah mencari kerja, phew.

Dengan setengah -oh no- seperempat hati aku mengisi lembar jawaban secara asal, tak mau berpikir lama dan berusaha lebih keras untuk menemukan jawaban yang tepat. Kalau kebetulan ada soal yang cukup mudah dan aku bisa menjawab, aku mengerjakannya dengan baik (yang mana hanya sekitar 20% saja). Sisanya? Hanya aku dan pengoreksi lembar jawabanku yang tahu.

Setelah hari ujian tersebut, aku bingung harus memposisikan diriku bagaimana. Berharap lulus? Sesungguhnya aku malas. Tapi aku juga takut kalau tidak lulus bisa-bisa aku menganggur karena hampir tidak ada lagi perguruan tinggi yang masih membuka pendaftaran. Hiks, nasibku.

Tapi ternyata semesta berkehendak lain. Namaku dinyatakan lulus dan terletak di urutan  10 terbawah wkwkwk. Masih untung bukan urutan terakhir mengingat betapa aku menjawab soal dengan berat hati.
Hari-hari perkuliahan dimulai. Melewati PPS -semacam ospek-, mulai beradaptasi dengan jadwal perkuliahan yang lebih sering tidak sinkron, disibukkan dengan setumpuk tugas (bukan PR), presentasi-presentasi di hampir setiap mata kuliah, belum lagi kehidupan asrama yang tak kalah melelahkan. Meskipun aku sudah terbiasa tinggal di asrama sejak SMA tapi tetap saja ada rasa bosan yang melanda.

Semester pertama terlewati dengan cukup sukses, kalau mau dinilai dari hasil indeks prestasiku yang lebih dari cukup. Mungkin karena mata kuliahnya masih dasar dan banyak berhubungan dengan materi SMA, sehingga aku cukup puas dapat meraih >3,5.
Berlanjut semester dua, tiga, hingga enam.
Rata-rata kejadian yang terjadi tak jauh berbeda. Hanya saja aku mulai belajar menerima keadaan bahwa di sinilah tempatku berada sekarang, berusaha melupakan cita-cita, mencoba menikmati dan memahami dunia kesehatan. Syukurlah aku dikelilingi teman-teman yang meskipun bukan kutu buku, tapi juga bukan trouble maker. Hal ini juga berpengaruh membentuk karakter dan nilai-nilaiku selama kuliah.

Ketika akhirnya tiba saat Yudisium (hari kelulusan), aku bersyukur dan sedikit tidak percaya bisa melewati tiga tahun di tempat yang bukan pilihan dan keinginanku. Satu lagi yang membuatku bangga... aku bisa bertahan dengan baik, dan bahkan meraih IPK sedikit di atas 3,5 yang mana sangat kusyukuri mengingat betapa drama-nya perjalananku untuk masuk ke kampus ini.

Sungguh, kuliah memang tak semanis di FTV dan tak sesimpel kelihatannya.
Tapi tentu saja ada banyak hal indah lain yang bisa ditemukan. Teman-teman baru, tak lagi dianggap anak-anak, dimintai pendapatnya, bisa terjun langsung ke masyarakat, memahami dunia kerja, dan banyak kebahagiaan lain yang akan dialami ketika kuliah.

Mungkin kalian merasa aku sombong, takabur, atau apalah dengan apa yang ku dapatkan. Tapi sungguh, bukan itu poinnya.
Aku hanya ingin bercerita, membagi kisah yang kukira bisa memberikan sedikit gambaran tentang dunia perkuliahan. Khususnya, tentang jurusan yang tidak sesuai keinginan, dorongan orang tua, atau mungkin bagi yang asal kuliah saja, dimanapun tak masalah.

Aku hanya ingin menunjukkan bahwa tak peduli apa latar belakang kita masuk ke suatu jurusan, pilihan akan selalu ada pada diri kita.
Apakah kita mau menjalaninya dengan baik, mencoba berdamai dengan diri sendiri dan mulai mencari alasan agar bisa menjalaninya dengan cara yang benar...
Atau, kita hanya akan berdiam diri dan merenungi nasib. Melewatkan hari demi hari hanya untuk mengutuk keadaan yang menempatkan kita di posisi itu, sehingga akhirnya melepaskan kesempatan untuk bisa melalui tahun-tahun di kampus dengan sia-sia.

Pilihan selalu ada. Bahkan ketika kita berada di situasi yang tidak diinginkan, kita selalu bisa memilih harus melakukan apa. Terus berjalan dan mengusahakan yang terbaik atau stuck dan diam di tempat seraya menatap teman yang bergerak satu persatu meraih impiannya.
Semua ada di tangan kita masing-masing.

Aku hanya memberi satu contoh, meskipun aku berkuliah di tempat yang tidak kuinginkan, tempat yang dipilihkan, bukan berarti aku harus memberontak dan tidak berkuliah dengan baik, kan?
Meskipun awalnya aku tidak suka, bukan berarti aku tak bisa meraih nilai yang bagus, kan?

Tetap semangat, teman-teman dan adik-adik mahasiswa di luar sana..
Ada banyak alasan untuk menyerah dan mundur, pasrah dan menjalani kuliah sekadarnya saja, tapi akan ada lebih banyak alasan agar kita bisa melakukan yang terbaik yang kita mampu.
Di atas segalanya, alasan untuk menyenangkan dan membuat orang tua bangga tentunya.

Sekian curhat colonganku kali ini. Maaf jadi kepanjangan hehe.

Semoga setelah membacanya kalian bisa mengambil sesuatu yang baik. Yang buruk dilupakan saja, oke?
Thanks for reading!
Fighting, guys!

Love,
Tamy.

Rabu, 09 Maret 2016

Menjalani yang Dipilihkan (1)

Posted by Tamy on Maret 09, 2016 with 3 comments

Selagi SMA, rasanya tidak sabar menantikan momen-momen tak lagi terikat peraturan tentang seragam, jam masuk-pulang yang begitu begitu saja, tugas, PR, Try Out, dan segudang kegelisahan lain yang membuat masa SMA terasa begitu lama.
Mungkin begitu persepsi awalnya, tetapi semua berubah seketika kala hari yang ditunggu tiba.
Perasaan ingin kembali dan merasa sangat rela mengenakan seragam putih abu-abu yang pernah begitu membosankan, perasaan ingin bersantai setelah pulang sekolah, bukannya malah mengejar dosen yang hanya bisa mengajar di waktu-waktu krusial, bahkan menjelang maghrib.

Aku mengira, ketika aku akhirnya lulus SMA aku akan menemukan dunia baru yang sangat menyenangkan. Menjadi mahasiswi dan tidak lagi dianggap anak kecil. Menemui banyak sekali orang-orang baru di lingkungan baru, melewati masa kuliah dengan sangat santai seperti yang diceritakan di FTV, datang ke kampus - belajar - nongkrong di kantin - pulang.

Ahh tapi sayang itu hanyalah khayalan dan keinginan yang tak bisa diwujudkan. Meskipun aku tak bilang dunia perkuliahan itu buruk dari segi manapun, tetap saja banyak hal terjadi di luar ekspektasi dan harapanku.
Aku akan sedikit menceritakan pahitnya menjadi mahasiswi, sebelum nanti kututup dengan segala hal baik yang bisa didapatkan ketika berkuliah.
So, read it until the last word please!

Karena aku masuk SMA yang cukup terfavorit dan siswa-siswi nya rata-rata berprestasi, aku harus mengenyahkan keinginan masuk ke kampus dengan opsi undangan (sekarang SNMPTN) atau jalur langsung tanpa tes tertulis. Kenapa? Tentu saja nilaiku tak mencukupi dan tidak bisa disaingkan dengan deretan nama-nama peraih nilai terbaik dari kelas satu. By the way, aku bukan siswi pintar yang langganan 5 besar. Beruntung masih suka nyempil di 10 besar dan pernah juga terlempar hingga peringkat 15 di kelas wkwkwk.
Setelah sadar dengan kualitas diri, aku berusaha masuk melalui jalur tes tertulis atau disebut SNMPTN ketika itu (Sekarang SBMPTN). Mirisnya, karena sesuatu dan lain hal aku tidak bisa ikut bimbingan belajar intensif menjelang SNMPTN sementara 85% teman sekelasku mengikutinya. Hopeless dong? Iyalah saingan mau masuk Universitas Negeri kan bukan cuma seratus dua ratus tapi ribuan!
Akhirnya daripada menyesali keadaan dan mengutuk diri sendiri serta berlarut dalam kesedihan, aku mulai mencari-cari contoh soal-soal SNMPTN beberapa tahun kebelakang, mencoba mengerjakannya, meskipun jarang-jarang. Paling seminggu sekali atau kalo lagi rajin yah tiga kali seminggu hihi.
Aku sadar kesempatanku sudah setipis kertas, tapi aku masih mencoba untuk optimis. Apalagi aku memilih IPC yang artinya aku harus mengikuti ujian dua versi yaitu IPA dan IPS padahal jurusanku di SMA adalah IPA. Modal nekat aja ini mah sebenernya hihi.

Dan betapa terkejutnya ketika pengumuman, namaku dinyatakan lulus di pilihan kedua. Bahagia tak terbendung karena aku sama sekali tak berani memasang target. Pikirku, lolos di pilihan ketiga saja sudah sangat beruntung. Ternyata malah di pilihan kedua yang somehow merupakan pilihan pribadiku dan tak disetujui orang tua dengan sedikit alasan klise.
And you know what happened after that... aku nggak diizinin dong ngambil jurusan itu. Hikss sedih kalo diinget:")
Temen-temenku nggak percaya aku ngelepas kesempatan kuliah di universitas negeri dengan semudah itu, mereka bahkan berkata bahwa aku sudah menyia-nyiakan satu kursi yang semestinya ditempati orang lain yang memang benar-benar ingin masuk ke jurusan dan universitas itu.
Tapi aku bisa apa? Nanti dibilang anak durhaka jika membantah. Lagipula, siapa yang mau membiayai kuliahku jika orangtua saja tidak setuju? Pikirku kala itu.
Aku memang dari awal sudah diingatkan untuk tidak memilih jurusan itu dan aku memilihnya dengan alasan tidak akan mungkin bisa lulus. Ternyata keberuntunganku tertuju ke sana yang sayangnya tidak bisa kulanjutkan.
Hancur sudah semua harapan yang ku bangun. Berharap bisa satu kampus dengan teman-temanku yang kebanyakan diterima di sana, bermimpi bisa mempelajari mata kuliah yang aku suka.
Tak terasa waktu berlalu, Time heals kata orang. Sedikit demi sedikit aku mulai melangkah ke arah yang ditunjukkan orangtuaku. Meskipun diiringi tetesan air mata setiap menjelang tidur selama rentang waktu aku menuju ke tes di tempat yang baru.

Lalu, dimana aku kuliah kemudian?
I'll tell you in the next post. See ya!

Love,
Tamy